Sabtu, 12 Januari 2013

Asal Mula Terbentuknya Danau Toba, Secara Geografis


Gunung Toba kini menjadi kompleks Danau Toba yang merupakan kaldera dengan Pulau Samosir di tengahnya.

Gunung Toba adalah gunung api raksasa yaitu gunung aktif dalam kategori sangat besar, diperkirakan meletus terakhir sekitar 74.000 tahun lalu menyisakan sebuah danau yaitu Danau Toba, Sumatera Utara, Indonesia sebagai kaldera terbesar di dunia.
Bukti ilmiah

Pada tahun 1939, geolog Belanda Van Bemmelen melaporkan, Danau Toba, yang panjangnya 100 kilometer dan lebarnya 30 kilometer, dikelilingi oleh batu apung peninggalan dari letusan gunung. Karena itu, Van Bemmelen menyimpulkan, Toba adalah sebuah gunung berapi. Belakangan, beberapa peneliti lain menemukan debu riolit (rhyolite) yang seusia dengan batuan Toba di Malaysia, bahkan juga sejauh 3.000 kilometer ke utara hingga India Tengah.
Beberapa ahli kelautan pun melaporkan telah menemukan jejak-jejak batuan Toba di Samudra Hindia dan Teluk Benggala. Para peneliti awal, Van Bemmelen juga Aldiss dan Ghazali (1984) telah menduga Toba tercipta lewat sebuah letusan mahadahsyat. Namun peneliti lain, Vestappen (1961), Yokoyama dan Hehanusa (1981), serta Nishimura (1984), menduga kaldera itu tercipta lewat beberapa kali letusan. Peneliti lebih baru, Knight dan sejawatnya (1986) serta Chesner dan Rose (1991), memberikan perkiraan lebih detail: kaldera Toba tercipta lewat tiga letusan raksasa.
Penelitian seputar Toba belum berakhir hingga kini. Jadi, masih banyak misteri di balik raksasa yang sedang tidur itu. Salah satu peneliti Toba angkatan terbaru itu adalah Fauzi dari Indonesia, seismolog pada Badan Meteorologi dan Geofisika. Sarjana fisika dari Universitas Indonesia lulusan 1985 ini berhasil meraih gelar doktor dari Renssealer Polytechnic Institute, New York, pada 1998, untuk  penelitiannya mengenai Toba. Berada di tiga lempeng tektonik.

   Letak Gunung Toba (kini: Danau Toba), di Indonesia memang rawan bencana. Hal ini terkait dengan posisi Indonesia yang terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Eurasia, Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. Sebanyak 80% dari wilayah Indonesia, terletak di lempeng Eurasia, yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Banda.
Lempeng benua ini hidup, setiap tahunnya mereka bergeser atau menumbuk lempeng lainnya dengan jarak tertentu. Lempeng Eurasia yang merupakan lempeng benua selalu jadi sasaran. Lempeng Indo-Australia misalnya menumbuk lempeng Eurasia sejauh 7 cm per tahun. Atau Lempeng Pasifik yang bergeser secara relatif terhadap lempeng Eurasia sejauh 11 cm per tahun. Dari pergeseran itu, muncullah rangkaian gunung, termasuk gunung berapi Toba.
Jika ada tumbukan, lempeng lautan yang mengandung lapisan sedimen menyusup di bawahnya lempeng benua. Proses ini lantas dinamakan subduksi atau penyusupan.
Gunung hasil subduksi, salah satunya Gunung Toba. Meski sekarang tak lagi berbentuk gunung, sisa-sisa kedasahyatan letusannya masih tampak hingga saat ini. Danau Toba merupakan kaldera yang terbentuk akibat meletusnya Gunung Toba sekitar tiga kali yang pertama 840 juta tahun lalu dan yang terakhir 74.000 tahun lalu. Bagian yang terlempar akibat letusan itu mencapai luas 100 km x 30 km persegi. Daerah yang tersisa kemudian membentuk kaldera. Di tengahnya kemudian muncul Pulau Samosir.
Letusan

   
Sebelumnya Gunung Toba pernah meletus tiga kali. Letusan pertama terjadi sekitar 840 juta tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea. Letusan kedua yang memiliki kekuatan lebih kecil, terjadi 500 juta tahun lalu. Letusan ini membentuk kaldera di utara Danau Toba. Tepatnya di daerah antara Silalahi dengan Haranggaol. Dari dua letusan ini, letusan ketigalah yang paling dashyat. Letusan ketiga 74.000 tahun lalu menghasilkan kaldera, dan menjadi Danau Toba sekarang dengan Pulau Samosir di tengahnya. 

  Gunung Toba ini tergolong Supervolcano. Hal ini dikarenakan Gunung Toba memiliki kantong magma yang besar yang jika meletus kalderanya besar sekali. Volcano kalderanya ratusan meter, sedangkan Supervolacano itu puluhan kilometer. Yang menarik adalah terjadinya anomali gravitasi di Toba. Menurut hukum gravitasi, antara satu tempat dengan lainnya akan memiliki gaya tarik bumi sama bila mempunyai massa, ketinggian dan kerelatifan yang sama. Jika ada materi yang lain berada di situ dengan massa berbeda, maka gaya tariknya berbeda. Bayangkan gunung meletus. Banyak materi yang keluar, artinya kehilangan massa dan gaya tariknya berkurang. Lalu yang terjadi up-lifting (pengangkatan). Inilah yang menyebabkan munculnya Pulau Samosir. Magma yang di bawah itu terus mendesak ke atas, pelan-pelan. Dia sudah tidak punya daya untuk meletus. Gerakan ini berusaha untuk menyesuaikan ke normal gravitasi. Ini terjadi dalam kurun waktu ribuan tahun. Hanya Samosir yang terangkat karena daerah itu yang terlemah. Sementara daerah lainnya merupakan dinding kaldera. 

   

Diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2.800 km³, dengan 800 km³ batuan ignimbrit dan 2.000 km³ abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu. Debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari Cina sampai ke Afrika Selatan. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 km di atas permukaan laut.

Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar 60% dari jumlah populasi manusia bumi saat itu, yaitu sekitar 60 juta manusia. Letusan itu juga ikut menyebabkan terjadinya zaman es, walaupun para ahli masih memperdebatkannya.

Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.

Tim peneliti multidisiplin internasional, yang dipimpin oleh Dr. Michael Petraglia, mengungkapkan dalam suatu konferensi pers di Oxford, Amerika Serikat bahwa telah ditemukan situs arkeologi baru yang cukup spektakuler oleh para ahli geologi di selatan dan utara India. Di situs itu terungkap bagaimana orang bertahan hidup, sebelum dan sesudah letusan gunung berapi (supervolcano) Toba pada 74.000 tahun yang lalu, dan bukti tentang adanya kehidupan di bawah timbunan abu Gunung Toba. Padahal sumber letusan berjarak 3.000 mil, dari sebaran abunya.

Selama tujuh tahun, para ahli dari oxford University tersebut meneliti projek ekosistem di India, untuk mencari bukti adanya kehidupan dan peralatan hidup yang mereka tinggalkan di padang yang gundul. Daerah dengan luas ribuan hektare ini ternyata hanya sabana (padang rumput). Sementara tulang belulang hewan berserakan. Tim menyimpulkan, daerah yang cukup luas ini ternyata ditutupi debu dari letusan gunung berapi purba.

Penyebaran debu gunung berapi itu sangat luas, ditemukan hampir di seluruh dunia. Berasal dari sebuah erupsi supervolcano purba, yaitu Gunung Toba. Dugaan mengarah ke Gunung Toba, karena ditemukan bukti bentuk molekul debu vulkanik yang sama di 2100 titik. Sejak kaldera kawah yang kini jadi danau Toba di Indonesia, hingga 3000 mil, dari sumber letusan. Bahkan yang cukup mengejutkan, ternyata penyebaran debu itu sampai terekam hingga Kutub Utara. Hal ini mengingatkan para ahli, betapa dahsyatnya letusan super gunung berapi Toba kala itu. Bukti-bukti yang ditemukan, memperkuat dugaan, bahwa kekuatan letusan dan gelombang lautnya sempat memusnahkan kehidupan di Atlantis.
 

Syi’ah; Sejarah & Perkembangannya


Secara fisik, sulit sekali membedakan antara penganut Islam dengan Syiah, namun jika diteliti lebih jauh dan lebih mendalam lagi—terutama dari segi aqidah—perbedaan di antara Islam dan Syiah sangatlah besar. Ibaratnya, Islam dan Syiah seperti minyak dan air, hingga tak mungkin bisa disatukan.

SELAMA ini, mayoritas orang selalu menganggap Syiah bagian dari Islam. Mayoritas kaum muslimin di seluruh dunia sendiri menilai bahwa menentukan sikap terhadap Syi’ah adalah sesuatu yang sulit dan membingungkan. Ini disebabkan beberapa hal mendasar yaitu kurangnya informasi tentang Syi’ah. Syi’ah, di kalangan mayoritas kaum muslimin adalah eksistensi yang tidak jelas, tidak diketahui apa hakikatnya, bagaimana berkembang, tidak melihat bagaimana sejarahnya, dan tidak dapat diprediksi bagaimana di kemudian hari. Berangkat dari hal-hal tersebut, akhirnya orang Islam yang umum meyakini Syi’ah tak lain hanyalah salah satu mazhab Islam, seperti mazhab Syafi’i, Maliki dan sejenisnya.
Tapi sesungguhnya ada perbedaan antara Syiah dan Islam. Bisa dikatakan, Islam dengan Syiah serupa tapi tak sama. Secara fisik, sulit sekali membedakan antara penganut Islam dengan Syiah, namun jika diteliti lebih jauh dan lebih mendalam lagi—terutama dari segi aqidah—perbedaan di antara Islam dan Syiah sangatlah besar. Ibaratnya, Islam dan Syiah seperti minyak dan air, hingga tak mungkin bisa disatukan.
Asal-usul Syi’ah
Syi’ah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan seseorang. Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang berkedok dengan slogan kecintaan kepada Ali bin Abi Thalib beserta anak cucunya bahwasanya Ali bin Abi Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm). Sedang dalam istilah syara’, Syi’ah adalah suatu aliran yang timbul sejak masa pemerintahan Utsman bin Affan yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba’ Al-Himyari.
Abdullah bi Saba’ mengenalkan ajarannya secara terang-terangan dan menggalang massa untuk memproklamasikan bahwa kepemimpinan (imamah) sesudah Nabi Muhammad saw seharusnya jatuh ke tangan Ali bin Abi Thalib karena suatu nash (teks) Nabi saw. Menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut. Dalam Majmu’ Fatawa, 4/435, Abdullah bi Shaba menampakkan sikap ekstrem di dalam memuliakan Ali, dengan suatu slogan bahwa Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa).
Keyakinan itu berkembang terus-menerus dari waktu ke waktu, sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Berhubung hal itu suatu kebohongan, maka diambil suatu tindakan oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu mereka dibakar, lalu sebagian dari mereka melarikan diri ke Madain.
Pada periode abad pertama Hijriah, aliran Syi’ah belum menjelma menjadi aliran yang solid. Barulah pada abad kedua Hijriah, perkembangan Syiah sangat pesat bahkan mulai menjadimainstream tersendiri. Pada waktu-waktu berikutnya, Syiah bahkan menjadi semacam keyakinan yang menjadi trend di kalangan generasi muda Islam: mengklaim menjadi tokoh pembaharu Islam, namun banyak dari pemikiran dan prinsip dasar keyakinan ini yang tidak sejalan dengan Islam itu sendiri.
Perkembangan Syiah
Bertahun-tahun lamanya gerakan Syiah hanya berputar di Iran, rumah dan kiblat utama Syiah. Namun sejak tahun 1979, persis ketika revolusi Iran meletus dan negeri ini dipimpin oleh Ayatullah Khomeini dengan cara menumbangkan rejim Syah Reza Pahlevi, Syiah merembes ke berbagai penjuru dunia. Kelompok-kelompok yang mengarah kepada gerakan Syi’ah seperti yang terjadi di Iran, marak dan muncul di mana-mana.
Perkembangan Syi’ah, yaitu gerakan yang mengatasnamakan madzhab Ahlul Bait ini memang cukup pesat, terlebih di kalangan masyarakat yang umumnya adalah awam dalam soal keagamaan, menjadi lahan empuk bagi gerakan-gerakan aliran sempalan untuk menggaet mereka menjadi sebuah komunitas, kelompok dan jama’ahnya.
Doktrin Taqiyah.
Untuk menghalangi perkembangan Syi’ah sangatlah sulit. Hal itu dikarenakan Syi’ah membuat doktrin dan ajaran yang disebut “taqiya.” Apa itu taqiyah? Taqiyah adalah konsep Syiah dimana mereka diperbolehkan memutarbalikkan fakta (berbohong) untuk menutupi kesesatannya dan mengutarakan sesuatu yang tidak diyakininya. Konsep taqiya ini diambil dari riwayat Imam Abu Ja’far Ash-Shadiq a.s., beliau berkata: “Taqiyah adalah agamaku dan agama bapak-bapakku. Seseorang tidak dianggap beragama bila tidak bertaqiyah.” (Al-Kaafi, jus II, h. 219).
Jadi sudah jelas bahwa Syi’ah mewajibkan konsep taqiyah kepada pengikutnya. Seorang Syi’ah wajib bertaqiyah di depan siapa saja, baik orang mukmin yang bukan alirannya maupun orang kafir atau ketika kalah beradu argumentasi, terancam keselamatannya serta di saat dalam kondisi minoritas. Dalam keadaan minoritas dan terpojok, para tokoh Syi’ah memerintahkan untuk meningkatkan taqiyah kepada pengikutnya agar menyatu dengan kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, berangkat Jum’at di masjidnya dan tidak menampakkan permusuhan. Inilah kecanggihan dan kemujaraban konsep taqiyah, sehingga sangat sulit untuk melacak apalagi membendung gerakan mereka.
Padahal, arti taqiyah menurut pemahaman para ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah berdasar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, taqiyah tidaklah wajib hukumnya, melainkan mubah, itupun dalam kondisi ketika menghadapi kaum musyrikin demi menjaga keselamatan jiwanya dari siksaan yang akan menimpanya, atau dipaksa untuk kafir dan taqiyah ini merupakan pilihan terakhir karena tidak ada jalan lain.
Doktrin taqiyah dalam ajaran Syi’ah merupakan strategi yang sangat hebat untuk mengembangkan pahamnya, serta untuk menghadapi kalangan Ahli Sunnah, hingga sangat sukar untuk diketahui gerakan mereka dan kesesatannya.
Kesesatan-kesesatan Syiah
Di kalangan Syiah, terkenal klaim 12 Imam atau sering pula disebut “Ahlul Bait” Rasulullah Muhammad saw; penganutnya mendakwa hanya dirinya atau golongannya yang mencintai dan mengikuti Ahlul Bait. Klaim ini tentu saja ampuh dalam mengelabui kaum Ahli Sunnah, yang dalam ajaran agamanya, diperintahkan untuk mencintai dan menjungjung tinggi Ahlul Bait. Padahal para imam Ahlul Bait berlepas diri dari tuduhan dan anggapan mereka. Tokoh-tokoh Ahlul Bait (Alawiyyin) bahkan sangat gigih dalam memerangi faham Syi’ah, seperti mantan Mufti Kerajaan Johor Bahru, Sayyid Alwi bin Thahir Al-Haddad, dalam bukunya “Uqud Al-Almas.”
Adapun beberapa kesesatan Syiah yang telah nyata adalah:
1. Keyakinan bahwa Imam sesudah Rasulullah saw. Adalah Ali bin Abi Thalib, sesuai dengan sabda Nabi saw. Karena itu para Khalifah dituduh merampok kepemimpinan dari tangan Ali bin Abi Thalib r.a.
2. Keyakinan bahwa Imam mereka maksum (terjaga dari salah dan dosa).
3. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam yang telah wafat akan hidup kembali sebelum hari kiamat untuk membalas dendam kepada lawan-lawannya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dll.
4. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam mengetahui rahasia ghaib, baik yang lalu maupun yang akan datang. Ini berarti sama dengan menuhankan Ali dan Imam.
5. Keyakinan tentang ketuhanan Ali bin Abi Thalib yang dideklarasikan oleh para pengikut Abdullah bin Saba’ dan akhirnya mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib sendiri karena keyakinan tersebut.
6. Keyakinan mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Padahal Ali sendiri mengambil tindakan hukum cambuk 80 kali terhadap orang yang meyakini kebohongan tersebut.
7. Keyakinan mencaci maki para sahabat atau sebagian sahabat seperti Utsman bin Affan (lihat Dirasat fil Ahwaa’ wal Firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minhaa, Dr. Nashir bin Abd. Karim Al Aql, hal.237).
8. Pada abad kedua Hijriah perkembangan keyakinan Syi’ah semakin menjadi-jadi sebagai aliran yang mempunyai berbagai perangkat keyakinan baku dan terus berkembang sampai berdirinya dinasti Fathimiyyah di Mesir dan dinasti Sofawiyyah di Iran. Terakhir aliran tersebut terangkat kembali dengan revolusi Khomeini dan dijadikan sebagai aliran resmi negara Iran sejak 1979.
Saat ini figur-figur Syiah begitu terkenal dan banyak dikagumi oleh generasi muda Islam, karena pemikiran-pemikiran yang lebih banyak mengutamakan kajian logika dan filsafat. Namun, semua jamaah Sunnah wal Jamaah di seluruh dunia, sudah bersepakat adanya bahwa Syiah adalah salah satu gerakan sesat. [sa/islampos/berbagai sumber]
Rujukan:
1. Dr. Nashir bin Abd. Karim Al Aql, “Dirasat fil Ahwaa’ wal firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minha.”
2. Drs. KH. Dawam Anwar dkk. “Mengapa kita menolak Syi’ah.”
3. Abdullah bin Said Al Junaid, “Perbandingan antara Sunnah dan Syi’ah. ”
4. Dan lain-lain, kitab-kitab karangan orang Syi’ah.
5. Beberapa situs dan blog pribadi

Kamis, 10 Januari 2013

Cara Sederhana Berwirausaha

Menurut Anda bagaimana cara yang paling tepat berwirausaha ? Berikut adalah 3 langkah sederhana untuk berwirausaha:

Langkah 1: Bersiaplah. Bersiaplah untuk menjadi bos bagi diri sendiri. Tidak ada lagi yang mengatur jadwal Anda. Hadapilah dengan sukacita. Kalau pun Anda memulai bisnis karena salah satunya adalah karena lingkungan kerja Anda yang sebelumnya kurang mendukung (misal: bos yang tidak koperatif, rekan kerja yang seenaknya sendiri, kemacetan yang menghabiskan waktu berjam-jam usia Anda dll). Lupakan semua itu karena Anda akan memasuki dunia baru yang menyenangkan.
Kalau selama ini Anda berangkat kerja sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam,.. hadapilah kenyataan yang menyenangkan bahwa sebentar lagi semuanya akan berubah. Jam 10 pagi Anda bisa duduk-duduk di Mall, meeting sambil makan siang, bisa menjemput anak sekolah, dll.

Kalau Anda memulai berwirausaha dengan keadaan lingkungan kerja sebelumnya yang menyenangkan, misal: bos yang mendukung, teman-teman yang mendukung, keluarga mendukung.. Wow.. apalagi yang Anda butuhkan selain itu semua? Anda sudah mempunyai harta karun. Jagalah baik-baik karena Anda akan lebih membutuhkannya sebentar lagi. Bersiaplah karena Anda akan menghadapi kenyataan yang menyenangkan! Jadi kapan Anda memulai?

Kalau Anda tanya persiapan apa yang perlu dipersiapkan untuk berwirausaha saya sependapat dengan Bob Sadino, Pertanyaan yang baik adalah pertanyaan yang dijalankan. Mengapa? Karena sesungguhnya Anda sudah tahu jawabannya bukan? Anda hanya ingin supaya ada ‘rasa aman’ dengan bertanya seperti itu. Selama ini Anda merasa aman dengan pekerjaan yang Anda jalani. Menerima gaji pada tanggal yang tetap, pekerjaan yang harus dilakukan sudah ada, tinggal dikerjakan, kalau pun ada kurang-kurangnya ya itu wajarlah, selama manusia masih bernafas, ia tidak akan merasa puas. jadi kalau Anda bertanya apa yang perlu dipersiapkan, jawaban dari saya adalah…

Tidak.. tidak..tidak.. saudara.. tidak ada hal baku yang perlu dipersiapkan. Tidak ada prosedur bakunya. tidak ada SOP-nya. Anda nanti yang harus membuat sendiri aturannya. Satu hal yang penting, kata DR bakmi H. Wahyu Saidi, MSc., gunakan 1/3 saja anggaran yang ada untuk memulai usaha jika Anda baru pertama kali memulainya. Sisanya gunakan untuk berjaga-jaga. Anda boleh percaya, boleh juga tidak lho..Asal tekad sudah bulat, hati sudah mantab, tancap maaang….

Langkah 2: Memulai. Mulailah berwirausaha sekarang juga. Kalau belum bisa 100% mulailah sedikit demi sedikit dahulu. Jangan karena sangat bersemangat kemudian Anda lupa menghitung resiko yang Anda ambil. Apalagi bila Anda habis menghadiri seminar. Wah..wah..wah.. Saran saya, jangan memulai bisnis ketika emosi Anda tidak stabil. Lebih jauh lagi, hindari mengambil keputusan saat emosi tidak stabil.

O iya, ini bukan dunia sinetron di mana ketika Anda mencapai kesuksesan atau akan memulai hal besar seperti ini akan ada musik pengiring yang mengiringi langkah-langkah yang Anda ambil. Bukan seperti iklan TV yang menceritakan entrepreneur sukses lho.. Tidak ada saudara.. this is real life bro..sis.. Enaknya adalah, kalau suatu saat di tengah perjalanan Anda menemui kesulitan – dan pasti akan Anda temui – tidak akan ada musik sedih yang mengiringi. Jadi maksudnya apa? Ya… semuanya netral-netral saja. Tergantung Anda sendiri mau memainkan musik yang mana di hati Anda. Be realistic.. and Be Brave.. kata Alexander the Great.. Tuhan bersama orang-orang yang berani.

Tanya Om, “kalau saya tidak punya Persiapan bagaimana? tapi saya pingin berwirausaha ?”
Hmmm… good question… kata yang sering dipakai mantan bos saya dulu.
Gini Bos… gitu aja kok repot.. Berarti ente cocoknya sama langkah yang berikutnya.

Langkah 3: Melangkah saja. Kadang-kadang kita perlu belajar dari anak-anak kecil. Inget gak dulu waktu kecil. Jatuh, nangis, terus… bangkit lagi. Berantem, nangis,… baikan lagi. Gak dibeliin mainan, nangis,.. diem lagi.
Wooow it was a beatiful life, isn’t it? Jadilah anak kecil, jadilah seperti Anda yang dahulu. Anda yang begitu perkasa saat menjadi anak-anak. Anda yang tidak takut apa pun (kecuali paling sama gelap, hantu, tikus,.. hmm banyak juga ya hahaha..).

Melangkah sajalah bung, karena kalau diam, apa yang didapat? Apa yang di harap? seumur-umur perjalanan hidup manusia yang sudah berlangsung ribuan tahun, seingat saya Tuhan belum pernah lho menurunkan hujan emas kayak di film Indiana Jones. Perubahan tidak ada akan pernah terjadi. Tetapi kalau Anda melangkah, walaupun masa depan itu tidak pasti, berita gembiranya adalah segala sesuatunya mungkin terjadi lho! (ini kata Om Mario Teguh) Termasuk sukses besoaaar yang menanti.

sumber:
 http://pengusahamuslim.com/cara-sederhana-berwirausaha-1427

Menanam Buah Naga di Pot


menanam buah naga

Tanaman buah naga dapat digunakan sebagai tanaman hias untuk mempercantik halaman rumah sekaligus juga dinikmati buah nya. Tentunya hal ini menyenangkan bila kita dapat memetik dan menikmati sendiri buah naga, buah naga bisa kita petik setiap minggu bila cabang sudah memiliki lebih dari 10 cabang produksi.



Keunggulan menanam buah naga di pot adalah kita bisa memindahkan dan mengatur posisi tanaman buah naga sesuai selera kita. Tapi supaya menghasilkan tanaman buah naga yang produktif tetap mesti mengetahui cara merawat dan memupuk yang benar.

Di bawah ini adalah cara cara  yang di lakukan pada budidaya buah naga di pot :


1. Mempersiapkan Pot


Kita dapat menggunakan semua jenis pot yang berbahan plastic, semen, tanah liat atau drum bekas yang dipotong. Tapi dari pengalaman, yang sangat bagus adalah pot dari tanah liat sebab tanaman buah naga memerlukan perubahan suhu yang drastis dari siang ke malam saat proses pembungaan. Semakin besar pot yang di pakai akan semakin baik, memiliki diameter minimal sekitar 40cm.



2. Mempersiapkan Tiang Penyangga

Tanaman buah naga memerlukan tiang penyangga untuk menyangga agar tidak roboh. Nantinya tiang penyangga akan dililit akar udara dan akan menyangga beberapa cabang produksi yang berat dan sebaiknya dipilih dari bahan yang kuat tapi harus di perhatikan juga supaya  pot jangan sampai tidak kuat menahan berat beban tiang penyangga.

Idealnya tiang penyangga terbuat dari besi beton dengan diameter 8-10 cm, ataupun balok kayu yang kuat dan tahan lama di sebabkan umur tanaman buah naga dapat mencapai puluhan tahun. Tinggi tiang penyangga antara 150-200 cm disesuaikan dengan besar pot. Pada bagian bawah tiang diberi kaki-kaki penguat agar nantinya bisa kuat dan tidak mudah goyah. Pada tiang dari besi beton, bagian yang terpendam dalam tanah bisa diberi aspal untuk menghindari karat. Pada bagian atas tiang penyangga diberi piringan dan berbentuk seperti stir mobil yang fungsinya untuk menyangga cabang-cabang produksi yang banyak.



3. Media Tanam

Sesudah pot dan tiang penyangga selesai dipersiapkan, setelahnya adalah menyiapkan media tanam. Bahan - bahannya adalah tanah, pasir, kompos dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1:3:1. kita juga dapat menambahkan bubuk batu bata merah secukupnya dan dolomit - kapur pertanian - sebanyak 100 g dicampurkan rata dengan bahan - bahan tersebut. Kemudian media tanam disiram air sehingga kondisi jenuh lalu biarkan selama sehari semalam.



4. Menanam bibit

Bibit tanaman naga idealnya dipilih yang besar, berasal dari cabang tua memiliki warna hijau tua keabuan dan bebas dari penyakit. Sebaiknya panjang bibit yang ditanam minimal 30 cm. Selanjutnya bibit ditanam disekitar tiang penyangga dengan kedalaman 10 cm, janganlah terlalu dalam karena akan mengakibatkan pertumbuhan yang kurang bagus. Sesudah ditanam media tanam ditekan-tekan agar bibit tidak mudah roboh. Selanjutnya media tanam disiram dengan air dan diletakkan ditempat terbuka tidak ternaungi yang terkena sinar matahari langsung.



5. Memelihara Tanaman

Memelihara tanaman buah naga yang ditanam di pot tidak jauh berbeda dengan buah naga yang ditanam dikebun yaitu meliputi pemupukan, penyiraman dan pemangkasan cabang yang tidak diperlukan. Selain itu, perlu juga diperhatikan agar tanaman dipastikan menempel dengan baik pada tiang penyangga dan tidak roboh, oleh sebab itu perlu mengikat  batang buah naga kepada tiang dengan menggunakan tali atau kawat dengan bentuk ikatan seperti angka ‘8’ tidak boleh terlalu kencang karena bisa merusak batang atau cabang seiring pertumbuhannya yang semakin membesar.

Cabang hasil pemangkasan dapat ditanam kembali agar menambah jumlah bibit yang dapat di tanam di pot lainnya. Semoga pelatihan pertanian ini bisa bermanfaat.

Budidaya Ikan Arwana Silver


Budidaya Ikan Arwana Silver
Budidaya Arwana Silver ternyata sangat menjanjikan. Seekor induk ikan Arwana Silver dapat menelurkan sekitar 100 ekor anakan dengan nilai jual Rp 30.000 per ekor untuk usia sekitar dua minggu pascainkubasi. Jika hasil panen 15 induk saja, larva atau anak ikan yang dimuntahkan dari mulut induk bisa mencapai 1.500 ekor. Maka hasil yang bisa diraup mencapai Rp 45 juta.
Teknik budidaya ikan arwana silver sendiri sebetulnya tidak terlalu sulit, hanya saja memang dibutuhkan ketelitian serta ketekunan yang sangat tinggi sebab ikan arwana silver harus selalu dijaga kondisi air, oksigen dan pakannya. Ikan Arwana Silver bisa kita kembangbiakkan di wadah budidaya seperti akuarium atau kolam.

Kualitas air yang selalu terjaga baik adalah tuntutan utama pada budidaya ikan arwana silver. PH air untuk budidaya arwana silver sebetulnya mempunyai rentang yang sangat lebar tapi disarankan guna memudahkan pemeliharaannya PH airnya disesuaikan dengan kondisi air pada kondisi sebetulnya di alam liar yaitu PH 6,8 – 7,5 dan suhu 27 – 29 C. Untuk mengganti air guna menjaga kualitas air dilakukan sebanyak 30 % – 34 % dari total volume dengan air deklorinisasi. Penggantian air perlu dilakukan apalagi dalam kondisi sesudah hujan sebab air hujan bisa mengakibatkan perubahan mendadak pada kualitas air kolam.

Pemberian pakan pada arwana yang baik adalah pemberian pakan bervariasi yang mengandung protein sangat tinggi. Pakan untuk induk arwana bisa diberikan berupa ikan atau udang rucah ditambah dengan pellet ikan dengan kadar protein 32 %. Pemberian pakan ini mesti dilakukan setiap hari dengan ketentuan 2% dari berat total tubuhnya.

Kematangan gonad atau masa produktif akan terjadi pada saat umur ikan arwana berumur 3 - 4 tahun dan telah mencapai panjang 45 cm – 60 cm. Pemijahan akan terjadi sepanjang tahun. Puncak pemijahan akan terjadi antara bulan Juli dan bulan Desember. Jika sudah terjadi pemijahan maka indukan jantan akan menjaga telur telur ini di dalam mulutnya selama 2 bulan. Guna melepaskan telur yang ada dalam mulut indukan jantan arwana, tarik secara perlahan dan hati-hati bagian bawah mulut indukan arwana silver setelah itu tekan perlahan bagian tubuhnya. Larva dikumpulkan untuk kemudian diinkubasi di tempat terpisah dengan indukan arwana.

Masa inkubasi dengan cara dipisah ini jauh lebih pendek jika dibandingkan dengan masa inkubasi normal yang bisa mencapai 8 minggu. Inkubasi dilakukan di dalam akuarium berukuran 45 x 45 x 90 cm dengan temperatur air 27 – 29 derajat celcius dan kadar oksigen terlarut 5 ppm. Guna mencegah terjadinya infeksi ketika menangani anakan atau burayak bisa memakai larutan Acriflavine 2 ppm. Dalam periode inkubasi ini anakan arwana tidak perlu diberi pakan. Pakan anakan arwana sendiri diperoleh dari kuning telur yang melempel pada tubuhnya dan akan habis pada minggu ke delapan. Sesudah minggu ke 8, anakan arwana mesti diberi pakan hidup pertama agar anakan arwana tidak saling makan antara mereka. Pada saat ini anakan arwana telah bisa berenang dengan bebas.

Pakan hidup untuk anakan arwana dapat berupa cacing darah atau anakan ikan kecil yang ukurannya sesuai dengan ukuran mulut ikan arwana silver ini. saat anakan arwana sudah mencapai ukuran 10 cm – 12 cm bisa diberikan pakan berupa udang air tawar kecil untuk mengimbangi kecepatan tumbuhnya.

sumber:
 http://www.hewankesayangan.com/ikan-arwana/budidaya-ikan-arwana-silver

Paus sei

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
?Paus sei
Seekor paus sei sedang makan di permukaan laut
Seekor paus sei sedang makan di permukaan laut
Perbandingan ukuran paus sei dengan manusia
Perbandingan ukuran paus sei dengan manusia
Status konservasi
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Upakelas: Eutheria
Ordo: Cetacea
Upaordo: Mysticeti
Famili: Balaenoptiidae
Genus: Balaenoptera
Spesies: B. borealis
Nama binomial
Balaenoptera borealis
Lesson, 1828
Persebaran paus sei
Persebaran paus sei
Paus sei (dilafalkan: [seɪ] atau [saɪ]), Balaenoptera borealis, adalah seekor paus balin. Hewan ini merupakan rorqual terbesar ketiga setelah paus biru dan paus sirip.[2] Paus sei dapat ditemukan di belahan dunia di seluruh samudra dan tengah laut. Paus Sei menyukai perairan lepas pantai.[3] Binatang ini cenderung menghindari perairan kutub dan tropis, serta perairan yang setengah tertutup. Paus sei bermigrasi setiap tahun dari perairan dingin dan subkutub di musim panas menuju perairan hangat dan subtropis di musim dingin, meskipun rute migrasi yang tepat tidak diketahui.[4]
Paus ini memiliki panjang 20 meter (66 kaki) dan massa lebih dari 45 ton.[4] Binatang ini mengonsumsi rata-rata 900 kilogram (2.000 pon) makanan setiap hari, terutama copepoda dan krill, dan zooplankton lainnya.[5] Binatang ini merupakan yang tercepat dari seluruh cetacea, dan dapat menjangkau kecepatan lebih dari 50 kilometer per jam (31 mil per jam, lebih dari 27 knot) jarak pendek.[5] Nama paus sei berasal dari bahasa Norwegia untuk pollock, ikan yang ada di pantai Norwegia pada waktu yang sama dengan paus sei.[6]
Akibat perburuan besar-besaran pada abad ke-19 dan abad ke-20, saat lebih dari 238.000 ekor paus ditangkap,[7] Paus sei ditetapkan sebagai spesies yang dilindungi,[1] walaupun perburuan masih terjadi di bawah program penelitian kontroversial Islandia dan Jepang.[8][9] Pada tahun 2006, terdapat sekitar 54.000 Paus sei, hanya seperlima dari populasinya sebelum mulai diburu.[6]

Daftar isi

Etimologi

Kladogram paus balin. Paus sei ditampilkan dengan warna merah. Klik gambar untuk memperbesar.
Spesies ini pertama kali dideskripsikan secara resmi oleh René-Primevère Lesson pada tahun 1828, namun deskripsi lebih awal telah dibuat oleh Karl Asmund Rudolphi (meskipun ia mengira paus sei sebagai paus minke, Balaenoptera acutorostrala), sehingg spesies ini kadang-kadang dijuluki rorqual Rudolphi. Nama lain meliputi paus pollack, paus coalfish, paus sarden, atau fin Jepang.[10]
Kata sei berasal dari bahasa Norwegia seje, yang berarti ikan pollock (juga disebut coalfish). Paus sei muncul di pantai Norwegia pada saat yang sama dengan pollock; keduanya muncul untuk memakan plankton.[6] Nama spesifik berasal dari bahasa Latin borealis, yang berarti utara. Di Pasifik, paus ini dikenal dengan nama Fin Jepang; "finner" merupakan istilah umum untuk mengartikan rorqual. Di Jepang binatang ini disebut iwashi kujira, atau paus sarden, nama untuk seekor ikan karena paus itu telah diamati untuk dimakan di Pasifik.[11]

Taksonomi

Paus sei diklasifikasikan sebagai Balaena rostraia, Balaena borealis, Bataenoptera laticeps, dan Eulama physalus, sebelum Balaenoptera borealis diresmikan.[12]
Hewan ini merupakan rorqual (famili Balaenopteridae), famili paus balin yang mencakup paus bungkuk, paus biru, paus bryde, paus sirip dan paus minke. Nama Rorqual berasal dari bahasa Norwegia röyrkval, yang berarti "paus kerut",[13] karena anggota famili ini memiliki rangkaian lipatan membujur atau lekukan di bawah mulut yang terus memanjang di sepanjang bagian bawah tubuh. Famili Balaenopteridae diyakini berbeda dari famili lain pada subordo Mysticeti, yang juga disebut paus tulang paus atau paus besar, selama pertengahan zaman Miosen.[14] Meskipun begitu, hanya sedikit informasi yang diketahui mengenai kapan anggota dari berbagai famili di Mysticeti, termasuk Balaenopteridae, menjadi berbeda satu sama lain.
Dua subspesies paus sei telah teridentifikasi, yaitu paus sei utara (Balaenoptera borealis borealis) dan paus sei selatan (Balaenoptera borealis schleglii).[15] Dua subspesies tersebut secara geografis terisolir satu sama lain dan perseberan mereka tidak tumpang tindih.

Deskripsi

Paus sei merupakan anggota terbesar ketiga dalam famili Balaenopteridae, setelah Paus Biru (lebih dari 180 ton) dan Paus Sirip (lebih dari 70 ton).[2] Paus dewasa biasanya berukuran antara 12 hingga 15 meter,[5] dan berbobot sekitar 20–30 ton. Paus sei selatan berukuran lebih besar dari paus sei utara. Paus betina umumnya lebih besar daripada yang jantan.[4] Paus sei terbesar tercatat berukuran 20 meter,[5] dan berbobot antara 40 hingga 45 ton. Spesimen terbesar berada di Islandia yang berukuran lebih panjang dari 16 meter.[16] Ketika lahir, anak paus biasanya memiliki panjang 4–5 meter.[5]

Anatomi

Tubuh paus sei biasanya berwarna abu-abu baja gelap dengan abu-abu terang yang tak biasa dan tanda putih pada permukaan perut, atau pada bagian depan tubuh bawah. Paus ini memiliki rangkaian 32–60 lipatan atau lekukan di sepanjang bawah tubuh yang memungkinkan wilayah kerongkongan melebar saat makan. Moncongnya runcing dan sirip dada relatif pendek dibandingkan paus lain, dengan panjang hanya 9%–10% dari total panjang tubuh.[6] Binatang ini memiliki punggung yang panjang dari ujung moncongnya hingga lubang sembur yang merupakan ciri khusus paus balin. Pada kulit paus sei sering terdapat lubang atua luka kecil, yang setelah sembuh menjadi bekas luka putih. Hal ini diyakini diakibatkan oleh copepoda ectoparisitik (Penella spp.),[17] lamprey (famili Petromyzontidae),[18] atau hiu pemotong (Isistius brasiliensis).[19] Binatang ini mempunyai sirip belakang yang berbentuk arit dan jangkung, dengan tinggi 25–61 sentimeter. Ukuran sirip belakang, pola pigmentasi, dan bekas luka hanya digunakan dalam batas tertentu pada penelitian dengan identifikasi foto.[20] Ekor paus ini tebal, sementara cupingnya relatif kecil jika dibandingkan dengan ukuran tubuh paus.[6]
Foto yang memperlihatkan tampalan gigi balin. Tampalan tersebut digunakan untuk menyaring makanan dari air.
Paus dewasa mempunyai 300–380 tampalan gigi hitam pucat pudar pada setiap sisi mulut, masing-masing panjangnya sekitar 48 sentimeter. Setiap tampalan gigi terbuat dari keratin seperti kuku jari yang merenggang keluar menjadi rambut keputih-putihan pada ujung dalam mulut dekat lidah.[5] Bulu yang berukuran sekitar 0.1 mm (0.004 inci) merupakan ciri utama yang membedakan paus sei dengan paus-paus balin lainnya.[21]
Paus sei tampak serupa dari paus balin lainnya. Cara yang mudah untuk membedakannya dengan paus bryde, selain dari perbedaan pada tampalan gigi, adalah melalui keberadaan punggung-punggung lateral pada permukaan atas kepala paus bryde. Paus sei besar dapat disalahdugakan sebagai paus sirip, kecuali jika pewarnaan kepala asimetris paus sirip dapat dilihat dengan jelas. Sisi kanan rahang bawah paus sirip berwarna putih, dan sisi kiri bercorak abu-abu. Saat dilihat dari samping, bagian tepi atas kepala paus sei mempunyai lengkungan kecil antara ujung moncong dengan mata, sedangkan paus sirip tak mempunyai lengkungan semacam itu.[4]

Kehidupan

Paus sei biasanya berkelana sendiri[22] atau dalam kelompok kecil yang berjumlah hingga enam individu.[20] Kelompok besar berkumpul terutama di tempat makan. Sangat sedikit informasi yang diketahui mengenai struktur sosial mereka. Jantan dan betina dapat membentuk sebuah ikatan, tetapi hal ini tidak pasti.[2][23]
Hewan ini adalah salah satu cetacea tercepat. Paus ini dapat melaju dengan kecepatan lebih dari 50 kilometer per jam.[5]Akan tetapi, binatang ini bukan penyelam handal, yang menyelam hanya hingga kedalaman dangkal selama lima hingga lima belas menit. Setelah menyelam, paus sei berenang di permukaan selama beberapa menit. Hewan ini tampak di perairan yang tenang dan jernih sambil menyembur dengan interval sekitar 40–60 detik, lalu kembali menyelam. Tidak seperti paus sirip, paus sei cenderung tidak melompat tinggi saat keluar air ketika menyelam. Lubang sembur dan sirip belakang sering tampak ke atas permukaan air secara serempak.

Makanan

Gambar segerombolan krill, binatang invertebrata laut seperti udang, yang merupakan salah satu makanan pokok Paus Sei.
Rorqual ini merupakan penyaring makanan, yang digunakan lempeng balin untuk memperoleh makanan dari air dengan cara membuka mulutnya, yang menelan sejumlah besar air yang mengangkut makanan, kemudian menyaring air keluar dari balin, dengan meninggalkan sejumlah makanan di dalam mulut.
Paus Sei makan dekat permukaan samudra, yang berenang pada sisinya melalui segerombolan mangsa untuk memperoleh rata-rata sekitar 900 kilogram makanan setiap harinya.[5] Untuk ukuran binatang, hal ini terkemuka karena untuk kebanyakan bagian, makanan yang disukainya rendah secara relatif pada rantai makanan, seperti zooplankton dan ikan kecil. Preferensi paus pada zooplankton telah ditentukan dari analisis perut dan pengamatan langsung kebiasaan makan .[24][25] Hal ini juga ditentukan dari analisis feses yang terkumpul dekat Paus Sei, yang tampak sebagai busa cokelat tipis di air. Feses tersebut dikumpulkan dalam jaring dan materi DNA pada sisanya terpisah keluar dan diidentifikasi secara individu, untuk dipasangkan dengan spesies yang dikatahui.[26] Persaingan paus untuk makan dengan berbagai spesies lain, seperti ikan clupeida (haring dan kerabatnya), hiu penjemur, dan Paus Sikat.
Di Atlantik, makanan pokok Paus Sei adalah copepoda calanoid, Calanus finmarchicus, dengan pilihan kedua euphausiida (krill), tertentu Meganyctiphanes norvegica dan Thysanoessa inermis.[27][28] Di Pasifik Utara, Paus Sei makan zooplankton serupa, seperti spesies copepoda Calanus cristatus, Calanus plumchrus, dan Calanus pacificus, dan spesies euphausida Euphausia pacifica, Thysanoessa inermis, Thysanoessa longipes, dan Thysanoessa spinifera. Sebagai tambahan, binatang ini juga diketahui makan organisme yang lebih besar, seperti cumi-cumi terbang Jepang, Todarodes pacificus pacificus,[29] dan ikan kecil, seperti anggota genera Engraulis (anchovy), Cololabis (saury), Sardinopa (pilchard), dan Trachurus (makarel jack).[27][30] Beberapa ikan tersebut dalam pola makannya secara komersial penting. California tengah, paus tersebut telah diamati makanannya pada anchovy antara bulan Juni dan Agustus, dan pada krill (Euphausia pacifica) selama September dan Oktober.[18] Di belahan selatan, spesies mangsa seperti copepoda Calanus tonsus, Calanus simillimus, dan Drepanopus pectinatus sama baiknya dengan euphausida Euphausia superba dan Euphausia vallentini.[27]

Daur hidup

Kopulasi terjadi di perairan subtropis yang hangat selama musim dingin. Periode gestasi diperkirakan berlangsung sekitar 10 3/4 bulan,[31] 11 1/4 bulan,[32] atau satu tahun,[33] bergantung model pertumbuhan fetus mana yang digunakan. Perbedaan perkiraan merupakan akibat dari ketidakmampuan ilmuwan mengamati seluruh proses kehamilan; sebagian besar data reproduksi Paus Balin diperoleh dari hewan yang ditangkap nelayan paus, yang hanya menunjukkan potret tunggal pertumbuhan foetus. Peneliti kemudian berusaha memperkirakan tanggal konsepsi dengan membandingkan ukuran dan ciri-ciri fetus dengan paus yang baru lahir.
Paus yang baru lahir disapih induknya saat 6–9 usia bulan ketika panjangnya 11–12 meter,[31] sehingga penyapihan berlangsung pada tempat makan di musim panas dan gugur. Paus betina bereproduksi setiap 2–3 tahun.[31] Sekitar enam fetus dilaporkan, namun kelahiran tunggal lebih banyak terjadi.[5] Rata-rata usia kematangan seksual betina dan jantan adalah 8–10 tahun,[31] saat mereka telah mencapai ukuran panjang sekitar 12 meter untuk jantan dan 13 meter untuk betina.[6] Paus tersebut dapat hidup hingga lebih dari 65 tahun.[34]

Vokalisasi

Seperti paus lainnya, Paus Sei terkenal untuk suaranya yang berfrekuensi kecil, kencang, dan panjang. Sedikit informasi yang diketahui mengenai panggilan spesifik yang dilakukan oleh paus ini, namun pada tahun 2003, pengamat di pantai Semenanjung Antarktika mencatat panggilan Paus Sei dapat berupa "geraman".[35] Banyak panggilan terdiri dari frekuensi yang berbeda. Kombinasi inimembedakan panggilan Paus Sei dengan paus lainnya. Panggilan biasanya berlangsung selama setengah detik, dan bekerja pada frekuensi 240–625 hertz, yang ada pada jangkauan telinga manusia. Volume maksimum urutan vokal dilaporkan sebesar 156 desibel relatif terhadap 1 mikropascal (μPa) untuk jarak satu meter.[35]

Habitat dan migrasi

Gambar Paus Sei pada perangko kepulauan Faroe yang dikeluarkan pada tanggal 17 September 2001
Paus Sei dapat ditemukan di seluruh dunia walaupun mereka jarang ditemukan di daerah perairan kutub atau tropis.[4] Kesulitan membedakan Paus Sei di laut dari kerabat mereka yang dekat, Paus Bryde dan kadang-kadang Paus Sirip, telah menimbulkan kesalahan tentang batasan distribusi dan frekuensi kemunculan mereka, terutama di perairan hangat tempat Paus Bryde paling banyak berada.
Di Atlantik utara, jangkauan Paus Sei terbentang dari Eropa selatan atau Afrika barat daya sampai Norwegia di Atlantik timur, dan dari Amerika Serikat selatan ke Tanah Hijau di barat.[3] Rekor paling selatan yang pernah ada adalah di pantai utara teluk Meksiko dan di Antilles Besar.[21] Di sepanjang jangkauannya, paus ini berusaha untuk menghindari perairan yang membuat setengah tubuhnya ada di permukaan, seperti di teluk Meksiko, teluk Santo Laurensius, teluk Hudson, laut Utara, dan laut Tengah.[4] Paus ini muncul di perairan dalam, kebanyakan muncul di lekuk benua,[36] di cekungan yang terletak antara tepian,[37] atau daerah lembah bawah laut.[38]
Di samudera Pasifik utara, Paus Sei ditemukan dari garis lintang 20°LU–23°LU pada musim dingin, dan dari garis lintang 35°LU–50°LU pada musim panas.[39] Diperkirakan 75% dari jumlah populasi Paus Sei di Pasifik utara ditemukan pada batas penanggalan internasional timur,[7] tetapi terdapat kekurangan informasi tentang distribusi paus ini di Pasifik utara. Dua paus yang dicatat di California nantinya ditemukan di Washington dan British Columbia, menjelaskan hubungan yang mungkin antara daerah tersebut,[40] tetapi kekurangan data lainnya membuat dua hal tersebut tidak meyakinkan. Di Belahan Selatan, distribusi musim panas berdasarkan data penangkapan sejarah adalah antara garis lintang 40°S–50°S, sementara distribusi saat musim dingin tidak diketahui.[27]
Umumnya, Paus Sei bermigrasi setiap tahun ke perairan dingin pada musim panas dan ke perairan subtropis pada musim dingin, tempat makanan lebih banyak tersedia.[4] Di Atlantik barat daya, penglihatan dan rekor penangkapan menghasilkan bahwa paus bergerak ke utara mengikuti pinggir paparan untuk mencapai daerah tepi sungai Georges, selat timur laut dan tepi sungai Browns pada pertengahan sampai akhir Juni. Mereka hadir di pantai selatan Newfoundland pada bulan Agustus dan September, dan migrasi ke selatan dimulai bergerak ke barat dan selatan sepanjang paparan Nova Scotia dari pertengahan September sampai pertengahan November. Paus di laut Labrador pada minggu pertama Juni bergerak lebih jauh ke utara ke perairan barat daya Greenland pada musim panas.[41] Di Atlantik timur laut, Paus Sei pada musim dingin bergerak sampai Afrika Barat dan mengikuti paparan benua ke utara pada musim semi. Betina besar memimpin migrasi ke utara dan mencapai selat Denmark lebih awal dan lebih dapat dipercaya daripada seks dan kelas lainnya, tiba pada pertengahan Juli dan tetap berada melalui pertengahan September. Pada beberapa tahun, jantan dan betina yang lebih muda tetap berada di garis lintang yang lebih rendah selama bulan musim panas.[16]
Meskipun diketahui beberapa arah umum pada latar belakang migrasi Paus Sei, rute migrasi terperinci tidak diketahui[16] dan ilmuwan tidak dapat memprediksi dengan tepat tempat grup akan muncul dari satu tahun ke selanjutnya. Lokasi khusus dapat setahun melihat pemasukan banyak paus dan tidak untuk beberapa tahun kemudian.[42] F.O. Kapel menyadari hubungan antara kemunculan berkala Paus Sei di barat Tanah Hijau dan serbuan berkala perairan hangat dari arus Irminger ke daerah tersebut.[43] Beberapa bukti dari data menunjukan bahwa individu Paus Sei kembali ke pantai Islandia pada basis tahunan.[44]

Penangkapan ikan paus

Harpun untuk menangkap paus.
Perkembangan harpun yang dapat meledak dan kapal penangkap bertenaga uap pada akhir abad ke-19 menyebabkan eksploitasi paus besar yang sebelumnya tidak dapat ditangkap oleh penangkap komersial. Paus Sei tidak diburu karena kecepatan yang tinggi dan kesulitan penangkapan,[45] serta karena hanya memproduksi sedikit minyak dan daging jika dibandingkan dengan paus besar lainnya. Saat populasi Paus Sikat, Paus Biru, Paus Sirip dan Paus Bungkuk yang dalam perdagangan lebih menarik terus menyusut, Paus Sei mulai diburu, terutama dari tahun 1950-an hingga 1970-an.[2]

Atlantik utara

14.295 Paus Sei ditangkap di samudera Atlantik Utara antara tahun 1885 dan tahun 1984.[7] Mereka diburu pada jumlah besar di pantai Norwegia dan Skotlandia yang dimulai pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20,[42] dan pada tahun 1885, lebih dari 700 Paus Sei dibunuh di Finnmark, Norwegia.[46] Daging Paus Sei adalah makanan populer di Norwegia, dan harga dari daging Paus Sei yang membuat dilakukannya perburuan spesies yang sulit ditangkap ini sebagai hal yang secara ekonomis dikerjakan dengan mudah pada awal abad ke-20.[47]
Di Islandia, 2.574 paus ditangkap dari pos penangkapan paus Hvalfjörður antara tahun 1948 dan tahun 1985. Sejak akhir tahun 1960-an atau awal 1970-an, Paus Sei menjadi target kedua setelah Paus Sirip oleh penangkap paus di Islandia, dengan permintaan daging berkualitas tinggi mengambil pertimbangan untuk minyak paus, yang pernah menjadi target penangkap paus.[45]
Jumlah kecil Paus Sei ditangkap di semenanjung Iberia yang dimulai pada tahun 1920-an oleh penangkap paus dari Spanyol,[48] dari paparan Nova Scotia pada akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an oleh penangkap paus dari Kanada,[41] dan dari pantai Tanah Hijau barat dari tahun 1920-an sampai tahun 1950-an oleh penangkap paus dari Denmark dan Norwegia.[43]

Pasifik utara

Di Pasifik Utara, jumlah Paus Sei yang dibunuh oleh penangkap paus untuk komersial sebesar 72.215 antara tahun 1910 dan tahun 1975;[7] mayoritas ditangkap setelah tahun 1947.[49] Pangkalan pantai di Jepang dan Korea memprosesikan 300–600 Paus Sei tiap tahun antara tahun 1911 dan tahun 1955. Pada tahun 1959, penangkapan paus oleh Jepang memuncak ketika 1.340 paus ditangkap. Penangkapan besar oleh penangkap paus di Pasifik Utara dimulai pada tahun 1960-an, dengan jumlah tangkapan rata-rata 3.643 per tahun dari tahun 1963 sampai tahun 1974 (jumlah 43.719; jangkauan per tahun 1.280–6.053).[50] Pada tahun 1971, setelah dekada jumlah penangkapan Paus Sei yang tinggi, spesies ini menjadi jarang di perairan Jepang, dan penangkapan paus komersial untuk paus berakhir di Pasifik Utara barat tahun 1975.[51][27]
Di pantai Amerika Utara, Paus Sei diburu di perairan British Columbia dari akhir tahun 1950-an sampai pertengahan tahun 1960-an, ketika jumlah paus yang ditangkap menurun sekitar 14 per tahun.[2] Lebih dari 2.000 paus terbunuh di perairan British Columbia antara tahun 1962 dan tahun 1967.[52] Antara tahun 1957 dan tahun 1971, pangkalan pantai California memprosesikan 386 paus.[18] Penangkapan paus komersial untuk Paus Sei berakhir di Pasifik Utara timur tahun 1971.

Belahan Selatan

Sebanyak 152.233 Paus Sei ditangkap di belahan selatan antara tahun 1910 dan tahun 1979.[7] Penangkapan ikan paus di samudra bagian selatan mengincar Paus Bungkuk. Pada tahun 1913, spesies yang diincar ini menjadi jarang dan penangkapan Paus Sirip dan Paus Biru mulai meningkat. Karena kedua spesies tersebut juga menjadi jarang, Paus Sei ditangkap dengan cepat pada akhir tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an.[27] Penangkapan memuncak pada tahun 1964 dengan lebih dari 20.000 Paus Sei, tetapi pada tahun 1976, jumlah ini menurun dibawah 2.000 dan penangkapan komersial spesies ini berakhir pada tahun 1977.[2]

Perlindungan internasional

Negara anggota Komisi Perpausan Internasional (yang berwarna biru).
Paus Sei tidak mendapat perlindungan yang berarti pada tingkat internasional sampai tahun 1970, ketika batasan penangkapan di Pasifik Utara mulai diatur pada basis spesies oleh Komisi Perpausan Internasional (IWC). Penangkap paus terbatas oleh kemampuannya untuk menetapkan lokasi paus.[53] Paus Sei diberikan perlindungan penuh dari penangkapan paus di Pasifik Utara tahun 1976, dan batasan Paus Sei diperkenalkan di Atlantik Utara tahun 1977. Populasi di belahan selatan dilindungi dari penangkapan pada tahun 1979. Karena menghadapi bukti bahwa beberapa spesies paus di dunia ditangani agar tidak punah, IWC memilih untuk mengimplementasikan pelarangan terhadap penangkapan paus yang dimulai pada tahun 1986 dan menghentikan semua penangkapan legal Paus Sei.[4]
Pada akhir tahun 1970-an, beberapa penangkap paus "ilegal" terjadi di Atlantik Utara timur.[54] Tidak terdapat bukti langsung penangkapan paus ilegal di Pasifik Utara, meskipun terdapat pengakuan kesalahan pelaporan data penangkapan paus oleh Uni Soviet[55] berarti bahwa data penangkapan tidak seluruhnya dapat dipercaya.
Spesies ini masuk kedalam daftar merah IUCN tahun 2000, dikategorikan sebagai "terancam".[1] Populasi di Belahan Utara dimasukan oleh CITES kedalam Appendix II, menandai bahwa mereka tidak perlu ditangani agar tidak punah, tetapi mungkin dapat terjadi jika tidak dimasukan. Populasi di Belahan Selatan dimasukan oleh CITES kedalam Appendix I, menandai bahwa mereka ditangani dari kepunahan.[5]

Penangkapan ikan paus pasca perlindungan

Sejak larangan penangkapan paus ditetapkan, beberapa Paus Sei ditangkap oleh penangkap paus dari Islandia dan Jepang dibawah program penelitian IWC. Islandia melakukan empat tahun penelitian antara tahun 1986 dan tahun 1989, dengan menangkap 40 paus Sei per tahun.[56]
Ilmuwan Jepang membunuh kira-kira 50 Paus Sei tiap tahun untuk tujuan ini. Penelitian dilaksanakan oleh Institut Penelitian Cetacean di Tokyo, institusi yang didanai oleh swasta dan tidak mendapat keuntungan. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk memeriksa apa yang dimakan Paus Sei dan untuk menentukan tingkat kompetisi antara paus dan penangkapan ikan. Dr. Seiji Ohsumi, Direktur Jendral Insitut Penelitian Cetacean mengatakan bahwa "Diperkirakan bahwa paus itu mengonsumsi 3 sampai 5 kali jumlah persediaan laut seperti yang ditangkap untuk konsumsi manusia, sehingga penelitian kami menyediakan informasi berharga yang dibutuhkan untuk menambah manajemen semua sumber laut kami."[57] Ia nantinya menambah bahwa " ... Paus Sei adalah spesies paus yang paling banyak kedua di Pasifik Utara barat, dengan perkiraan populasi lebih dari 28.000 paus. Jadi sudah jelas tidak terancam."[58]
Grup konservasi seperti World Wildlife Fund mempertanyakan kepentingan penelitian ini, menyatakan bahwa diketahui bahwa Paus Sei biasanya makan cumi-cumi dan plankton yang tidak diburu oleh manusia, dan jarang makan ikan. Mereka mengatakan bahwa program ini "bukan lain adalah rencana yang direncanakan untuk membiarkan perburuan paus tetap berjalan, dan kebutuhan untuk menggunakan paus sebagai korban dari kelebihan penangkapan ikan oleh manusia."[8] Kualitas penelitian ilmu pengetahuan didapat dibawah program penelitian penangkapan paus dikritik sangat buruk; pada pertemuan komite ilmu pengetahuan Institut Penelitian Cetacean tahun 2001, 32 ilmuwan memasukan dokumen melambangkan kepercayaan mereka bahwa program Jepang itu kekurangan dan tidak mencapai standar minimum penilaian akademik yang digunakan secara luas pada ilmu pengetahuan dunia.[59]

Perkiraan populasi

Populasi global Paus Sei diperkirakan hanya 54.000, sekitar seperlima populasi sebelum era perburuan ikan paus.[6] Penelitian tahun 1991 di samudera Atlantik utara menunjukkan bahwa jumlah populasi Paus Sei di daerah itu hanya 4.000.[60] Penelitian ini menggunakan metode pengukuran umum yang disebut "tangkapan per satuan usaha", yang mencoba untuk menarik kesimpulan tentang kelimpahan berdasarkan jumlah waktu dan usaha yang dibutuhkan untuk melokasi spesies pada pertanyaan. Metode ini dikritik pada komunitas ilmu pengetahuan dan tidak dianggap indeks kelimpahan ilmu pengetahuan sebenarnya.[61] Paus Sei dikatakan jarang ditemukan pada tahun 1960-an dan awal 1970-an di Norwegia utara, tempat jumlah yang banyak ditangkap pada akhir abad ke-19 melalui Perang Dunia II.[62] Satu penjelasan mungkin untuk hilangnya paus ini adalah karena paus tersebut terlalu banyak diambil,[62] sementara penjelasan alternatif adalah pengurangan dratis copepoda di Atlantik tenggara selama akhir 1960-an karena perubahan distribusi Paus Sei.[63] Survey di selat Denmark menemukan 1.290 paus tahun 1987, dan 1.590 paus pada tahun 1989.[63] Tingkat populasi di Nova Scotia diperkirakan antara 1.393 dan 2.248, dengan perkiraan terkecil sebesar 870.[41]
Penelitian pada tahun 1977 menghasilkan perkiraan populasi sebesar 9.110 di samudera Pasifik berdasarkan data tangkapan per satuan usaha.[50] Besar populasi ini dibantah karena penangkapan paus yang dilakukan Jepang, dan terdapat klaim pada tahun 2002 bahwa populasi Paus Sei di samudera Pasifik utara sebanyak 28.000 paus,[58] besar yang tidak diterima oleh komunitas ilmu pengetahuan.[8] Di perairan California, hanya terdapat satu penglihatan yang dikonfirmasi dan lima kemungkinan penglihatan dari tahun 1991 sampai tahun 1993 melalui survey kapal dan udara,[64][65][65][66] dan tidak terdapat penglihatan yang dikonfirmasi di Oregon dan Washington. Karena aktivitas perburuan ikan paus komersial, diperkirakan terdapat 42.000 Paus Sei di samudera Pasifik utara.[50] Pada akhir periode eksploitasi (1974), jumlah Paus Sei di samudera Pasifik utara berkurang antara 7.260 dan 12.620 paus.[50]
Di Belahan Selatan, perkiraan populasi Paus Sei sebesar 9.800 sampai 12.000 ekor ikan paus. Perkiraan ini berdasarkan sejarah penangkapan dan tangkapan per satuan usaha di samudera belahan selatan.[60] IWC melaporkan perkiraan 9.718 paus berdasarkan data survey antara tahun 1978 dan 1988.[67] Karena penangkapan ikan paus komersial, diperkirakan terdapat 65.000 ekor Paus Sei yang hidup di belahan selatan.[60]

Lihat pula

Catatan kaki

  1. ^ a b c Cetacean Specialist Group (1996). Balaenoptera borealis. 2006 IUCN Red List of Threatened Species. IUCN 2006. Diakses 2006-11-03. Database entry includes justification for why this species is endangered.
  2. ^ a b c d e f S.L. Perry (1999). "Special Issue: The Great Whales: History and Status of Six Species Listed as Endangered Under the U.S. Endangered Species Act of 1973". Marine Fisheries Review 61 (1): 52–58.
  3. ^ a b Gambell, R. (1985). "Sei Whale 'Balaenoptera borealis Lesson, 1828". di dalam S.H. Ridgway and R. Harrison (eds). Handbook of Marine Mammals, Vol. 3. London: Academic Press.
  4. ^ a b c d e f g h Reeves, R. (July 1998) (PDF). Draft Recovery Plan for the Fin Whale Balaenoptera physalus and Sei Whale Balaenoptera borealis. Silver Spring, Maryland: National Marine Fisheries Service.
  5. ^ a b c d e f g h i j Shefferly, N. (1999). "Balaenoptera borealis". Animal Diversity Web. Diakses pada 4 November 2006.
  6. ^ a b c d e f g "Sei Whale & Bryde's Whale Balaenoptera borealis & Balaenoptera edeni". American Cetacean Society. 1 Maret 2004. Diakses pada 8 November 2006.
  7. ^ a b c d e Horwood, J. (1987). The sei whale: population biology, ecology, and management. Kent, England: Croom Helm Ltd.. ISBN 0-7099-4786-0.
  8. ^ a b c WWF-International (2005-06-01). Japanese Scientific Whaling: Irresponsible Science, Irresponsible Whaling. Siaran pers. Diakses pada 2006-11-10.
  9. ^ Lihat Perburuan ikan paus di Jepang dan Perburuan ikan paus di Islandia
  10. ^ "Sei Whales (Balaenoptera borealis)". Whales on the net. Diakses pada 29 November 2006.
  11. ^ Andrews, R.C. (May 1911). "Shore Whaling: A World Industry". National Geographic Magazine.
  12. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama allen
  13. ^ "Etymology of mammal names". IberiaNature - Natural history facts and trivia. Diakses pada 7 Desember 2006.
  14. ^ Gingerich, P. (2004). "Whale Evolution" (PDF). McGraw-Hill Yearbook of Science & Technology. The McGraw Hill Companies.
  15. ^ Balaenoptera borealis (TSN 180526). Integrated Taxonomic Information System. URL diakses 10 November 2006.
  16. ^ a b c Martin, A.R. (1983). "The sei whale off western Iceland. I. Size, distribution and abundance". Rep. Int. Whal. Commn 33: 457–463.
  17. ^ Ivashin, M.V. (1978). "On the cause of appearance of white scars on the body of whales". Rep. Int. Whal. Commn 28: 199.
  18. ^ a b c Rice, D.W. (1977). "Synopsis of biological data on the sei whale and Bryde's whale in the eastern North Pacific". Rep. Int. Whal. Commn Spec. Iss. 1: 92–97.
  19. ^ Shevchenko, V.I. (1977). "Application of white scars to the study of the location and migrations of sei whale populations in Area III of the Antarctic". Rep. Int. Whal. Commn Spec. Iss. 1: 130–134.
  20. ^ a b Schilling, M.R. (1992). "Behavior of individually identified sei whales Balaenoptera borealis during an episodic influx into the southern Gulf of Maine in 1986". Fish. Bull. 90: 749–755.
  21. ^ a b Mead, J.G. (1977). "Records of sei and Bryde's whales from the Atlantic coast of the United States, the Gulf of Mexico, and the Caribbean.". Rep. Int. Whal. Commn Spec. Iss. 1: 113–116.
  22. ^ Edds, P.L. (1984). "Notes on a sei whale (Balaenoptera borealis Lesson) sighted off Maryland". Cetus 5 (2): 4–5.
  23. ^ "The Sei Whale (Balaenoptera borealis)" (PDF). The Institute for Marine Mammal Studies. Diakses pada 7 Desember 2006.
  24. ^ Watkins, W.A. (1979). "Aerial observations of feeding behavior in four baleen whales: Eubalaena glacialis, Balaenoptera borealis, Megaptera novaeangliae, and Balaenoptera physalus". J. Mamm. 60: 155–163.
  25. ^ Weinrich, M.T. (1986). "Behavior of sei whales in the southern Gulf of Maine, summer 1986". Whalewatcher 20 (4): 4–7.
  26. ^ Darby, A. (February 6, 2002). "New Research Method May Ease Whale Killing". National Geographic News. Diakses pada 19 Desember 2006.
  27. ^ a b c d e f Mizroch, S.A. (1984). "The Sei Whale, Balaenoptera borealis". Mar. Fish. Rev. 46 (4): 25–29.
  28. ^ Christensen, I. (1992). "A review of feeding and reproduction in large baleen whales (Mysticeti) and sperm whales Physeter macrocephalus in Norwegian andadjacent waters". Fauna norvegica Series A 13: 39–48.
  29. ^ Tamura, T. (October, 2001). "Competition for food in the Ocean: Man and other apical predators" (PDF). Reykjavik Conference on Responsible Fisheries in the Marine Ecosystem, Reykjavik, Iceland, 1–4 October 2001. Diakses pada 9 Desember 2006.
  30. ^ Nemoto, T. (1977). "Characteristics of food habits and distribution of baleen whales with special reference to the abundance of North Pacific sei and Bryde's whales". Rep. Int. Whal. Commn Spec. Iss. 1: 80–87.
  31. ^ a b c d Lockyer, C. (1983). "The sei whale off western Iceland. II. Age, growth and reproduction". Rep. Int. Whal. Commn 33: 465–476.
  32. ^ Lockyer, C. (1977). "Some estimates of growth in the sei whale, Balaenoptera borealis". Rep. Int. Whal. Commn Spec. Iss. 1: 58–62.
  33. ^ Risting, S (1928). "Whales and whale foetuses". Rapp. Cons. Explor. Mer 50: 1–122.
  34. ^ WWF (2007-06-18). "Sei whale". WWF Global Species Programme.
  35. ^ a b McDonald, M. (December 2005). "Sei whale sounds recorded in the Antarctic". The Journal of the Acoustical Society of America 118 (6): 3941–3945.
  36. ^ CETAP (1982). "Final Report of the Cetacean and Turtle Assessment Program, University of Rhode Island, to Bureau of Land Management". U.S. Department of the Interior. Ref. No. AA551-CT8–48.
  37. ^ Sutcliffe, W.H., Jr. (1977). "Whale distributions in Nova Scotia waters". Fisheries & Marine Service Technical Report No. 722.
  38. ^ Kenney, R.D. (1987). "Cetacean biomass densities near submarine canyons compared to adjacent shelf/slope areas". Cont. Shelf Res. 7: 107–114.
  39. ^ Masaki, Y. (1976). "Biological studies on the North Pacific sei whale". Bull. Far Seas Fish. Res. Lab. 14: 1–104.
  40. ^ Rice, D.W. (1974). "Whales and whale research in the North Pacific". di dalam Schervill, W.E. (ed.). The Whale Problem: a status report. Cambridge, MA: Harvard University Press. hlm. 170–195. ISBN 0-674-95075-5.
  41. ^ a b c Mitchell, E. (1977). "Preliminary assessment of stocks of northwest Atlantic sei whales (Balaenoptera borealis)". Rep. Int. Whal. Commn Spec. Iss. 1: 117–120.
  42. ^ a b Jonsgård, Å. (1977). "On the biology of the eastern North Atlantic sei whale, Balaenoptera borealis Lesson". Rep. Int. Whal. Commn Spec. Iss. 1: 124–129.
  43. ^ a b Kapel, F.O. (1985). "On the occurrence of sei whales (Balenoptera borealis) in West Greenland waters". Rep. Int. Whal. Commn 35: 349–352.
  44. ^ Sigurjónsson, J. (1983). "The cruise of the Ljósfari in the Denmark Strait (June-July 1981) and recent marking and sightings off Iceland". Rep. Int. Whal. Commn 33: 667–682.
  45. ^ a b Sigurjónsson, J. (1988). "Operational factors of the Icelandic large whale fishery". Rep. Int. Whal. Commn 38: 327–333.
  46. ^ Andrews, R.C. (1916). "The sei whale (Balaenoptera borealis Lesson)". Mem. Am. Mus. Nat. Hist. New Ser. 1 (6): 291–388.
  47. ^ Ingebrigtsen, A. (1929). "Whales caught in the North Atlantic and other seas". Rapports et Procès-verbaux des réunions, Cons. Perm. Int. L’Explor. Mer, Vol. LVI.. Copenhagen: Høst & Fils.
  48. ^ Aguilar, A. (1981). "Preliminary report on Spanish whaling operations". Rep. Int. Whal. Commn 31: 639–643.
  49. ^ Barlow, J., K. A. Forney, P.S. Hill, R.L. Brownell, Jr., J.V. Carretta, D.P. DeMaster, F. Julian, M.S. Lowry, T. Ragen, and R.R. Reeves (1997). "U.S. Pacific marine mammal stock assessments: 1996" (PDF). NOAA Tech. Mem. NMFS-SWFSC-248.
  50. ^ a b c d Tillman, M.F. (1977). "Estimates of population size for the North Pacific sei whale". Rep. Int. Whal. Commn Spec. Iss. 1: 98–106.
  51. ^ Committee for Whaling Statistics (1942). International whaling statistics. Oslo: Committee for Whaling Statistics.
  52. ^ Pike, G.C (1969). "Marine mammals of British Columbia". Fish. Res. Bd. Canada Bull. 171.
  53. ^ Allen, K.R. (1980). Conservation and Management of Whales. Seattle, WA: Univ. of Washington Press.
  54. ^ Best, P.B. (1992). "Catches of fin whales in the North Atlantic by the M.V. Sierra (and associated vessels)". Rep. Int. Whal. Commn 42: 697–700.
  55. ^ Yablokov, A.V. (1994). "Validity of whaling data". Nature 367: 108.
  56. ^ WWF-International (2003-08-07). WWF condemns Iceland’s announcement to resume whaling. Siaran pers. Diakses pada 2006-11-10.
  57. ^ The Institute of Cetacean Research, Tokyo, Japan (2002-03-01). Japan not catching endangered whales. Siaran pers. Diakses pada 2006-11-10.
  58. ^ a b The Institute of Cetacean Research, Tokyo, Japan (2002-05-20). Japan's senior whale scientist responds to New York Times advertisement. Siaran pers. Diakses pada 2006-11-10.
  59. ^ Clapham, P. et al. (2002). "Relevance of JARPN II to management, and a note on scientific standards. Report of the IWC Scientific Committee, Annex Q1". Journal of Cetacean Research and Management (supplement): 395–396.
  60. ^ a b c Braham, H. (1992). "Endangered whales: Status update". Alaska Fisheries Science Center, Seattle, WA.
  61. ^ Blaylock, R.A., J.W. Haim, L.J. Hansen, D.L. Palka, and G.T. Waring (1995). "U.S. Atlantic and Gulf of Mexico stock assessments". U.S. Dept. of Commerce, NOAA Tech. Memo NMFS-SEFSC-363.
  62. ^ a b Jonsgård, Å. (1974). "On whale exploitation in the eastern part of the North Atlantic Ocean". di dalam W.E. Schevill (ed.). The whale problem. Cambridge, MA: Harvard University Press. hlm. 97–107.
  63. ^ a b Cattanach, K.L. (1993). "Sei whale abundance in the North Atlantic, estimated from NASS-87 and NASS-89 data". Rep. Int. Whal. Commn 43: 315–321.
  64. ^ Hill, P.S. and J. Barlow (1992). "Report of a marine mammal survey of the California coast aboard the research vessel "MacArthur" July 28 - November 5, 1991." (PDF). U.S. Dept. Commerce, NOAA Technical Memo NMFS-SWFSC-169.
  65. ^ a b Carretta, J.V. and K.A. Forney (1993). "Report of two aerial surveys for marine mammals in California coastal waters utilizing a NOAA DeHavilland Twin Otter aircraft: March 9 - April 7, 1991 and February 8 - April 6, 1992" (PDF). U.S. Dept. Commerce, NOAA Technical Memo NMFS-SWFSC-185.
  66. ^ Mangels, K.F. and T. Gerrodette (1994). "Report of cetacean sightings during a marine mammal survey in the eastern Pacific Ocean and the Gulf of California aboard the NOAA ships "MacArthur" and "David Starr Jordan" July 28 - November 6, 1993" (PDF). U.S. Dept. Commerce, NOAA Technical Memo NMFS-SWFSC-211.
  67. ^ IWC (1996). "Report of the sub-committee on Southern Hemisphere baleen whales, Annex E". Rep. Int. Whal. Commn 46: 117–131.

Daftar pustaka

  • National Audubon Society Guide to Marine Mammals of the World, Reeves, Stewart, Clapham and Powell, 2002, ISBN 0-375-41141-0
  • Whales & Dolphins Guide to the Biology and Behaviour of Cetaceans, Maurizio Wurtz and Nadia Repetto. ISBN 1-84037-043-2
  • Encyclopedia of Marine Mammals, editors Perrin, Wursig and Thewissen, ISBN 0-12-551340-2
  • Whales, Dolphins and Porpoises, Carwardine (1995, reprinted 2000), ISBN 978-0-7513-2781-6

Pranala luar

sumber:
 http://id.wikipedia.org/wiki/Paus_sei